Tuesday, January 16, 2018

Fine Painting Genres

-Galleries
Flowers
Landscapes
Portraits
Updates

Research by Month


Keeping up to Date:


Biography

Sudarso lahir pada jaman Kolonial Belanda di Indonesia tahun 1914. Di bawah pemerintahan Belanda anak-anak Indonesia tidak diijinkan untuk mengikuti pendidikan dasar, dan pelatihan khusus seperti kesenian tradisional tidak pernah dihiraukan. Anak-anak kelas rendah ditakdirkan utuk melayani dan bekerja sebagai buruh, sedangkan anak-anak yang bertugas sebagai pengirim sementara aristokrat dan itelektual atau pegawai negeri sipil diberikan prioritas khusus.

Ini juga yang dialami oleh Sudarso. Sebagai seorang pengirim, salah satu hal yang biasa ia lakukan adalah mengantarkan telur dan susu untuk guru masa depannya, Affandi. Sudarso biasanya duduk dan menonton selama berjam-jam selama Affandi melukis.

Agak kesal, suatu hari Affandi bertanya, “Kenapa kau suka menonton saya melukis selama berjam-jam?”. Sudarso menjawab bahwa ia ingin Affandi mengajarinya menggambar dan melukis. Tak lama setelah Affandi mulai mengajarinya dan setelah setengah tube cat yang digunakan dimulailah persahabatan mereka yang panjang.

Ini mungkin merupakan sebuah keberuntungan karena Sudarso mengabadikan seluruh hidupnya untuk melukis, namun masih banyak hal yang harus diatasi. Pelukis kontemporer dari Indonesia benar-benar melepaskan diri untuk menjadi orang Indonesia. Sudarso memilih untuk tetap melestarikan dan menerima warisan dan budaya walaupun mendapat banyak kesulitan. Tapi kesenian yang dimiliki oleh Sudarso terus mengalir di seluruh masyarakat Indonesia.

Namun, setiap bakat kreatif orang Indonesia diabaikan oleh Belanda. Mereka meremehkan dan merendahkan potensi dari adat masyarakat. Pameran untuk pelukis Indonesia tak diterima kecuali pelukis mau berbicara dengan bahasa Belanda, berpakaian Belanda dan secara resmi dididik oleh pelukis Belanda.

Ketika Jepang pindah ke Indonesia pada saat Jerman menyerang Belanda, mereka merasa heran saat menemukan sesosok tubuh besar bekerja dengan cemerlang dalam melukis dan memamerkan untuk pertama kalinya.

Scene seni Indonesia mulai berkembang dan Sudarso pindah ke Yogya dan mulai mengajar di Akademi Seni Rupa Indonesia, sekolah seni paling bergengsi saat itu. Selanjutnya, ia menjadi pemimpin dari “Pelukis Rakyat Legendaris”.

Dia memilih gadis-gadis sederhana yang ceria, cantik dan perempuan muda sebagai objeknya. Dia menemukan keindahan yang menakjubkan dan intensitas seperti pada wanita. Tetapi pia lebih terkenal karena renditionnya pada kaki dan tangan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kaki dan tangan adalah realistas ke detail terkecil.

Di atas bapak revolusi pelukis, Sudarso, bersama dengan istrinya Hj. Asiyah punya 8 anak. Lima anak laki-laki dan masing-masing menjadi pelukis. Yang termuda, Sudargono atau ‘Gono’ telah menetapkan dirinya sebagai sosok seni ke generasi pelukis Indonesia. Gono adalah seorang pelukis abstrak yang kuat dan asli dengan warna dan tekstru yang tak tertandingi dalam seni. Ia menjual lukisannya di seluruh dunia sebanyak ribuan dolar.

Pada suatu waktu, lukisan Sudarso sudah sangat jarang. Lukisannya telah dikumpulkan oleh banyak museum dan kolektor pribadi di seluruh dunia. Presiden Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia adalah kolektor yang paling terkemuka dan juga merupakan teman dekatnya.

Sudarso meninggal pada tahun 2006. Kontribusinya untuk seni ruma modern Indonesia yang monumental memberikan inspirasi bagi generasi, sementara ia merubah seni menjadi alat politik untuk Indonesia.